Akuntansi Untuk Perusahaan Entertainment

Published: Sabtu, 25 November 2017 dibaca 93

Saat kita mendengar kata perusahaan entertainment, maka hal pertama yang kita pikirkan adalah perusahaan entertainment yang ada di Korea dimana terdapatnya artis-artis yang sudah pasti dinaungi oleh perusahaan agensi.

Lalu, bagaimanakah perlakuan akuntansi terhadap perusahaan entertainment tersebut? Apakah sama perlakuan akuntansi perusahaan entertainment dengan perusahaan jasa lainnya? Karena sebelumnya juga menjadi perdebatan oleh para akuntan dalam hal pengakuan artis-artis dalam perusahaan agensi tersebut, jika dalam perusahaan pada umumnya terdapat karyawan, aset-aset,dan lain sebagainya. Namun dianggap sebagai apakah artis dalam perusahaan agensi ini ? Apakah diakui sebagai aset,produk, atau aset tak berwujud ?

Beberapa pernyataan mengenai pengakuan aset terhadap artis dalam perusahaan agensi:

  1. Artis tersebut diakui sebagai aset tetap. Artis ini sifatnya lebih dalam jangka panjang yang ditunjukkan dengan kontrak kerjanya lebih dari satu tahun karena arti sini sendiri memberikan keuntungan ekonomi di masa yang akan datang dan lebih dari satu tahun yang terlihat dari penjualan album-album atau penghasilannya dalam setiap kali tampil di setiap acara. Dan artis tersebut dikontrol oleh entitas dalam hal ini adalah perusahaan agensi. Penyusutan (amortisasi) artis disini dihitung berdasarkan dengan nilai kontraknya. Jika artis sudah selesai masa kontraknya, maka aktiva dihapuskan dalam neraca.
  2. Artis diakui sebagai aktiva tidak berwujud. Keuntungan yang diperoleh oleh artis ini didapat dari kontribusi atau jasa dari artis tersebut, maka“jasa”yang diberikan oleh artis inilah yang disebut dengan aktiva tak berwujud. Pengukuran artis sebagai aktiva tak berwujud diaku sesuai dengan biaya perolehannya. Contohnya adalah jika artis tersebut didapat dari audisi, maka biaya audisi tersebut yang menjadi biaya perolehan.

Dalam segi prinsip akuntansi, artis disini tidak bisa dianggap sebagai pegawai, karena dalam prinsip akuntansi terdapat human capital. Oleh karena itu, sudah dijelaskan sebelumnya artis dianggap sebagai aset karena sesuai dengan prinsip akuntansi human capital. Dan artis sendiri tidak bisa diakui sebagai penjualan atau disamakan dengan barang dagangan karena penjualan itu hanya terjadi sekali saja, sedangkan artis dalam perusahaan agensi ini akan terus berlanjut selama kontraknya masih ada. Oleh karena itu, artis dianggap sebagai aset.

Lalu mengapa artis dianggap sebagai aset tetap? Bukan sebagai aset lancar? Seperti kita ketahui, aset lancar merupakan aset yang memberikan manfaat hanya dalam satu tahun atau selama periode berjalan saja, sedangkan artis disini memberikan masa manfaat lebih dari satu tahun yaitu selama kontrak yang sudah disepakatinya dengan perusahaan agensi itu masih berlaku. Oleh karena itu, artis disini lebih diakui seperti aset tetap.

Sehingga dapat disimpulkan, aktiva tersebut dapat diidentifikasi. Implikasinya, aktiva tersebut memiliki manfaat ekonomis yang dapat dijual, disewakan atau dipertukarkan secara terpisah melalui penjualan album dan tiket konser dari artis tersebut, Perusahaan memiliki kendali atas aktiva tersebut, agensi memegang kendali para artis tersebut seperti kepada siapa dia disewakan. Di masa mendatang, perusahaan akan memperoleh manfaat atas kepemilikan aktiva tersebut dimana pihak agensi akan mendapatkan keuntungan yang diperoleh dari penjualan album dan tiket konser para artis sesuai kontrak yang telah disepakati.

sumber gambar : 

https://www.google.co.id/urlsa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=0ahUKEwiwt_7HndzXAhUGRo8KHS2IAOAQjRwIBw&url=https%3A%2F%2Fwww.dramafever.com%2Fnews%2Fsong-joong-kis-passport-detailsstolen-and-leaked-%2F&psig=AOvVaw1Dcb3r8U-O8GLM2TxXBn5s&ust=1511785351094895