Press Release Selasar Dedikasi : Blok Mahakam dikelola Pertamina, Kaltim Dapat Apa?

Published: Minggu, 04 Februari 2018 dibaca 159

Salam Dedikasi!

Diskusi yang diadakan pada tanggal 02 Februari lalu membahas tema ”Blok Mahakam dikelola Pertamina, Kaltim dapat apa ? ”

Blok Mahakam memang merupakan sumber kilang minyak terbesar di Indonesia, mulai
dieksplorasi oleh PT.Total E&P Indonesie pada tahun 1966, sempat diperpanjang kontraknya
dan berakhir pada 31 Desember 2017. Selain itu, cadangan minyak dan gas blok ini mencapai
105 juta barel minyak dan 4,9 triliun kaki kubik gas. Jumlah yang begitu besar untuk sehingga
bertahan sampai setelah dieksploitasi selama lima dekade.

Tepat pada tanggal 01 Januari 2018 lalu, Pertamina mulai mengambil alih peran dari PT.Total
E&P Indonesie untuk mengeksploitasi blok minyak ini, itu artinya terjadi nasionalisasi (
perpindahan dari asing ke nasional ) kekayaan alam. Akhirnya proses ini terjadi pula setelah
dinantikan oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kalimantan Timur karena
memang blok ini berada di Provinsi disana.

Lantas yang menjadi pertanyaanya, mampukah negara melalui BUMN maupun BUMD
mengolah kilang minyak ini ? jawabanya jelas mampu, kita bisa lihat PT Badak LNG di Bontang,
perusahaan kelas dunia yang beroperasi di bidang gas ini 100% tenaga kerjanya dari bangsa
Indonesia, justru orang asing yang belajar disana, tentu tidak hanya itu saja, teknologi pesawat
pun kita bisa kuasahi.

Merujuk ke tema diskusi yang dilaksanakan kemarin (02/02), yaitu Blok Mahakam Dikelola
Pertamina, Kaltim Dapat Apa ? secara tersirat memang Kaltim sangat mengharapkan sekali
kontribusi dari blok minyak yang berlokasi di Kukar, untuk mendongkrak perekonomian daerah.
Contoh konkret dalam pembahasan diatas adalah bisa mendongkrak APBD Kaltim.

Menurut paparan dari pemateri Bapak Purwadi,SE.,M.Si (Dosen FEB Unmul) bahwa jika
pemerintah provinsi Kaltim ingin mengoptimalkan blok Mahakam ini tentu harus mebuat
Perusahaan daerah yang sehat. Artinya perusahaan yang kompeten dan kredibel serta
transparansi mutlak dilakukan sebelum perusda ini beroperasi, mulai mempublikasikan
informasi yang berkaitan dengan pimpinan perusahaan, karyawan, dan kepemikan saham.

Masalah sistem pengelolaan pun tak luput dari pengamatan beliau karena memang sistem
pengelolaan menjadi pondasi dalam upaya optimalisasi blok mahakam, dan perlu kita ketahui
bahwa pemprov Kaltim tidak bisa mengelola blok ini dengan jelih, akibatnya kekayaan alam
yang seharusnya bisa mensejahterakan masyarakat hingga sekarang masih menjadi impian.

Dalam konteks nasionalisasi blok Mahakam ini, ada konflik yang sendiri antara pemprov Kaltim
dengan Pemkab Kukar terkait pembagian participating interest sebesar 10%, ini menjadi sensitif
sebab dua pihak yang memiliki kepentingan masing-masing, seharusnya dua pihak ini
berkolaborasi untuk mendapatkan persentase PI ke pusat supaya lebih besar lagi, toh juga PI
10% ini untuk sama pembangunan Kaltim bukan ke Kukar saja.

Kemudian CSR dari perusahaan masih menjadi catatan kelam di negara ini, persoalan CSR yang
terkesan formalitas ini masih terjadi, CSR yang akan tersalurkan ketika banyak masyarakat yang
memprotes perusahaan. Dengan pergantian dari PT.Total E&P Indonesie ke Pertamina yang
notabene perusahaan nasional harapanya program CSR ini membantu perekonomian
Kalimantan Timur dalam permasalahan kesejahteraan maupun sebagai pendongkrak anggaran
pembangunan.

Jika permasalahan-permasalahan diatas belum kunjung usai, kehidupan rakyat kecil masih
sengsara, anggaran-anggaran dari pajak rakyat diselewengkan dan kekayaaan alam digadaikan
ke asing maka sudah dipastikan negara ini akan berada diambang batas kehancuran, maka BEM
FEB Unmul akan terus memberikan kritik-kritik dan rekomendasi yang konstruktif dalam
permasalahan Kaltim dan Indonesia.

Panjang Umur Perjuangan !!!
Abadi lah Perjuangan !!!
Hidup Mahasiswa !!!

Salam,
Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM FEB Unmul 2018
"Dedikasi untuk Indonesia"
------------------------------------------------
72/DK/I/18